Headlines News :
Tampilkan postingan dengan label Kopassus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kopassus. Tampilkan semua postingan

`Memecat Kopassus Sama Juga Melawan Rakyat Jogja`

'Memecat Kopassus Sama Juga Melawan Aspirasi Rakyat Jogja'. Demikian tulisan sebuah spanduk di atas kain hitam yang mewakili dukungan warga Yogyakarta kepada 12 terdakwa kasus penyerangan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas II B Cebongan, Sleman, Yogyakarta.

Puluhan warga memadati halaman Pengadilan Militer II-11 Bantul untuk memberikan dukungan moril pada 8 dari 12 terdakwa yang menjalani sidang putusan vonis, Kamis (5/9). Mereka mengapresiasi anggota Kopassus Grup II Kandang Menjangan Kartasura.

Menurut warga, penyerangan yang menewaskan Diki dan kawan-kawan pada 23 Maret 2013 itu sebagai upaya pemberantasan premanisme. Kelompok Diki ditahan karena membacok Heru Santoso di sebuah tempat hiburan di Yogyakarta hingga tewas.

Dukungan warga pun menjadi pertimbangan meringankan bagi oditur penuntut. Namun oditur tetap menuntut para terdakwa diberi sanksi pemecatan dari Kopassus. Sebab, aksi mereka itu mencemarkan nama baik TNI di mata masyarakat. MetroNews

Aksi Pendukung Kopassus Nyaris Ricuh

Bantul - Aksi demo mendukung Kopassus nyaris rusuh dan bentrok dengan aparat TNI. Hal itu dipicu aksi bakar ban bekas di depan Gedung Pengadilan Militer II/11 Yogyakarta, Kamis (5/9/2013).

Massa dari berbagai organisasi menjadikan mobil pikap sebagai panggung orasi. Mereka mengecam putusan vonis hakim.

Awalnya, saat massa membakar ban bekas dan poster, aparat TNI tak banyak bereaksi. Namun saat massa membakar ban lagi, situasi mulai memanas. Sambil berorasi dan mengibarkan bendera merah putih, massa meneriakkan yel-yel 'Hidup Kopassus'.

Api membesar. Asap tebal membuat mata pedih. Dandim Kota Yogyakarta Letkol Ananta Wira bersama aparat lainnya meminta massa memadamkan api. Namun massa menolak. Ananta Wira naik ke mobil pikap untuk mengendalikan massa yang mulai panas. Dia sempat emosi karena dihalang-halangi dan imbauannya tidak dihiraukan.

Setelah itu, massa masih meluapkan emosinya dengan melakukan aksi bakar sejumlah barang. Aparat kemudian melakukan pengamanan dan meminta massa tenang.

Aparat mendatangkan mobil pemadam kebakaran. Sisa ban bekas yang terbakar kemudian dipadamkan oleh petugas pemadam. Saat api dipadamkan massa sempat menyoraki petugas. detik

Apa Alasan Warga Mendukung Kopassus

Begitu banyak dukungan dan simpati yang di berikan rakyat Indonesia khususnya warga Yogya kepada 12 prajurit Kopassus yang terlibat dalam kasus penyerbuan Lapas Cebongan Sleman Yogya telah menunjukkan betapa besarnya cinta warga yogya kepada TNI. Mereka tahu dan sadar bahwa apa yang dilakukan oleh 12 prajurit Kopassus tersebut adalah salah di mata hukum, namun demikian dengan adanya peristiwa penyerbuan Lapas cebongan tersebut warga yogya merasa sangat di untungkan dimana pada akhirnya mereka dapat beraktifitas dengan tenang tanpa takut mendapat gangguan dari sekelompok preman yang terkadang sering membuat onar di lingkungan mereka. Selain itu apa yang di lakukan oleh 12 prajurit kopassus tersebut bagi warga yogya telah berhasil membuka celah hukum yang sudah terlanjur beku, khususnya dalam hal penanganan tindak kriminal di sekitar yogya.
Bila melihat begitu besarnya dukungan rakyat indonesia khususnya warga yogya terhadap Kopassus, saya yakin didalam benak kita pasti timbul pertanyaan kenapa tindakan yang salah kok justru mendapat dukungan? apakah rakyat yogya ini seluruhnya buta hukum?
Saya kira sungguh naif, apabila kita sebagai manusia yang dibekali akal, cipta, rasa dan karsa oleh Tuhan YME  hanya dapat menjudge sikap warga yogya dari kacamata hukum saja tanpa mau melihat faktor lain yang melatar belakangi kenapa mereka memberikan dukungan yang begitu besar kepada 12 prajurit Kopassus yang dimata hukum sudah tentu dianggap sebagai seorang penjahat yang sepatutnya dihukum.
Ternyata setelah saya coba menggali dari sisi historis, saya menemukan adanya suatu ikatan emosional yang kuat antara warga yogya dengan para prajurit kopassus tersebut dimana warga yogya merasa dirinya telah berhutang budi kepada mereka (Kopassus) ketika yogya tengah dilanda bencana alam yang dahsyat dan menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit.
Mungkin kita masih ingat, saat terjadinya gempa bumi di daerah Bantul yogya pada tanggal 27 Mei 2006 pukul 05.55 WIB berkekuatan 5,9 SR, yang mana telah menimbulkan korban jiwa sebanyak kurang lebih 4000 orang dan merusak sejumlah infrastruktur yang lokasinya tidak jauh dari pusat gempa.
Pada saat itu tim penyelamat gabungan tidak bisa masuk ke area lokasi yang terkena dampak gempa bumi paling parah seperti bantul karena sulitnya akses masuk, akan tetapi Kopassus dengan segala kemampuannya telah berhasil menembus kearea bantul dan melakukan evakuasi dengan cepat terhadap seluruh korban gempa yang sudah dalam kondisi terkapar tidak bernyawa berserakan dimana - mana. Tapi, disaat mereka tengah melakukan evakuasi dan kehabisan logistik celakanya kendaraan penyuplai logistiknya tidak dapat melewati medan yang ada sehingga para prajurit tersebut dengan terpaksa memakan beberapa bekal yang sudah kadaluarsa dimana sudah barang tentu sangat berbahaya bagi kesehatan mereka.
Warga yogya yang selamat dan mengetahui hal inipun menaruh simpatik, namun karena mereka sendiri sedang dalam kesusahan maka warga yogyapun tidak dapat berbuat banyak untuk memberikan bantuannya.



Kemudian pada tanggal 26 Oktober 2010 ketika terjadinya bencana erupsi merapi dan menewaskan sekitar 165 orang, Kopassus bersama dengan perangkat lainnya berusaha menembus pekatnya abu vulkanik yang tersebar di berbagai lokasi lereng gunung merapi untuk mencari korban yang masih selamat dan mengevakuasinya.
Selama dalam misi penyelamatan tersebut tidak jarang mereka harus kucing - kucingan dengan semburan abu vulkanik yang sewaktu - waktu bisa merenggut nyawa mereka. Tidak jarang beberapa personel kopassus mengalami sakit gangguan pernapasan akibat terlalu banyak menghirup udara merapi yang mengandung zat berbahaya.
Dari dua rangkaian peristiwa diatas, tentunya kita semua sudah dapat melihat bahwa secara tidak langsung apa yang pernah dilakukan oleh para prajurit Kopassus tersebut telah melahirkan sebuah ikatan emosional yang kuat antara rakyat yogya dengan prajurit - prajurit Kopassus yang pernah membantu mereka (warga yogya). Sehingga ketika warga yogya mengetahui adanya beberapa prajurit Kopassus yang terkena musibah, tanpa dikomandopun rakyat yogya dari berbagai elemen lapisan masyarakat turun untuk memberikan supportnya kepada mereka. Bukan hanya warga yogya, dari daerah lainpun juga diketahui datang memberikan dukungannya seperti bantuan advokat, suara, moril sampai dengan materil.Bahkan diberbagai jejaring sosial, dukungan kepada 12 prajurit Kopassuspun setiap hari terus mengalir tanpa henti.

Pendukung Kopassus Kembali Blokir Jalan Depan Pengadilan Militer

Bantul - Ratusan pendukung Kopassus kembali menggelar aksi demo di depan Pengadilan Militer II/11 Yogyakarta, Kamis (22/8/2013). Massa yang menamakan Kawulo Ngayogyakarto Hadiningrat yang terdiri dari 35 elemen itu menuntut agar Serda Ucok Tigor Simbolon dihukum seringan-ringannya atau dibebaskan.

Massa memblokir jalur lambat dan jalur cepat ringroad timur Ketandan, Bangunguntapan serta berorasi di pinggir jalan depan Dilmil. Mereka membentangkan poster dan spanduk di pagar Dilmil. Beberapa di antaranya naik di atas pagar.

"Rakyat Yogyakarta cinta damai, rasa aman tanpa ada premanisme dan narkoba. Kita tidak ingin ada premanisme di Yogya," kata koordiantor aksi dari Paguyuban Becak Yogyakarta Jiyono.

Dia meminta majelis hakim membebaskan 12 orang anggota Kopassus Grup II Kandang Menjangan, Kartosuro.

Selama aksi berlangsung massa meneriakkan yel-yel "Hidup rakyat Yogyakarta, hidup Kopassus" berkali-kali.

Koordinator aksi lainnya, Guspur menyatakan kasus Diki cs yang mengakibatkan tewasnya Serka Heru Santosa di Hugos Cafe itu ada kaitannya dengan peredaran narkoba di Yogyakarta.

Di dalam ruang sidang, majelis hakim Letkol (CHK) Joko Sasmito menyampaikan duplik dari penasihat hukum tiga terdakwa Serda Ucok Tigor Simbolon, Serda Sugeng Sumaryanto dan Koptu Kodik. Massa melakukan aksi di halaman. Dalam sidang sebelumnya, Senin (19/8) massa melakukan aksi serupa.

Bela Kopassus, 'Kawulo Ngayogyakarto' Demo Oditur Militer

Yogyakarta - Ratusan orang yang tergabung dalam Kawulo Ngayogyakarto Hadiningrat menggelar demo di kantor Oditur Militer (Otmil) II/11 Yogyakarta. Mereka meminta oditur menuntut 12 anggota Kopassus terdakwa kasus Cebongan dengan hukuman ringan.

Aksi digelar di depan kantor Otmil II/11 Yogyakarta di Jl Sultan Agung No 28 Yogyakarta, Jumat (26/7/2013). Massa berasal dari beragam elemen. Massa paguyuban sopir becak datang dengan membawa becak dan memarkirkan kendaraan roda tiganya di depan kantor Otmil.

Di pagar Otmil, massa memasang spanduk berwarna merah bertuliskan "Bebaskan 12 Prajurit KOPASSUS dari Segala Tuntutan".

Dalam orasinya, koordinator aksi M Suhud meminta oditur tidak menggunakan bahasa hukum saat menyusun tuntutan, tapi bahasa nurani. Sebab 12 anggota Kopassus itu telah berjasa bagi warga Yogya dalam memberantas preman.

"Mereka tidak melakukan pembunuhan berencana, tapi didasari semangat jiwa korsa," katanya.

Suhud meminta oditur menyusun tuntutan dengan hukuman ringan. Bagi warga Yogya, tindakan prajurit Kopassus sangat berharga. Jika Diki cs dibiarkan, maka masyarakat resah.

"Mereka (Kopassus) itu bagi kami adalah pahlawan dan ksatria," kata Suhud.

Usai membacakan tuntutan dan menyerahkan pernyataan sikap, massa membubarkan diri. Aksi juga tidak dijaga ketat aparat, tapi hanya dijaga polisi lalu lintas agar kawasan tersebut tidak macet.

Sidang lanjutan dengan terdakwa Kopassus digelar, Rabu (31/7) pekan depan, dengan agenda pembacaan tuntutan.
Sumber: detik

Kopassus Cijantung gelar pasar murah untuk anggota dan warga umum

Komando Pasukan Khusus (Kopassus) menggelar kegiatan Pasar Murah untuk anggota Tamtama, Bintara, PNS dan keluarga besar Kopassus serta masyarakat di lingkungan komplek Kopassus, Cijantung.
Acara itu secara resmi dibuka langsung oleh Komandan Jenderal Kopassus Mayjen TNI Agus Sutomo, didampingi Kolonel Inf M Herindra dan para asisten Danjen Kopassus serta sejumlah Kabalak Kopassus di lapangan Gatot Subroto, Jl RA Fadillah, Jakarta Timur, Sabtu (27/7/201313).
Baca juga: Komisi I DPRD Tanah Bumbu Kalsel belajar PTSP di Jaktim dan Lagi-lagi, Kampung Pulo terendam banjir
Pembukaan Pasar Murah Kopassus ini ditandai dengan pelepasan balon dan juga persembahan atraksi terjun payung dari para anggota Kopassus.
Danjen Kopassus Mayjen TNI Agus Sutomo, mengatakan kegiatan Pasar Murah ini sudah kedua kalinya diadakan di bulan Ramadhan kali ini. “Kegiatan ini sangat membantu bagi masyarakat yang akan mendapatkan kebutuhan jelang lebaran nanti. Kami menyediakan 1000 paket seharga Rp 50 ribu yang dijual cuma dengan harga Rp 25.000,” terang Danjen Kopassus Mayjen TNI Agus Sutomo. @winarko
Sumber: LensaIndonesia

Pembakaran CCTV Cebongan Ide Intel Kopassus

Yogyakarta - Terdakwa anggota Kopassus penyerang dan pembunuh empat tahanan di LP Cebongan Sleman Yogyakarta mengaku mengambil dan membakar rekaman kamera pengintai CCTV di penjara itu. "Ide mengambil CCTV dari saya, secara naluri intelijen, kalau tidak dihilangkan akan meninggalkan jejak," kata Sersan Satu Tri Juwanto di Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta, Rabu, 17 Juli 2013. Tri menjadi saksi untuk terdakwa Sersan Dua Ucok Tigor Simbolon dan dua rekannya.

Tri menjelaskan, setelah melihat kamera CCTV di ruang portir, dia menanyakan kepada sipir letak penyimpanan kamera pengintai dan perekamnya. Menurut dia, rekaman CCTV itu kemudian dibakar dan dibuang ke Bengawan Solo. Pembakaran dilakukan di lapangan tembak asrama Grup II Kopassus Kandang Menjangan Kartasura oleh Tri, Sertu Suprapto, Sertu Herman Siswoyo, dan Sertu Martinus Robertus.

Tri juga mengaku dia yang memberi informasi kepada Serda Ucok Tigor Simbolon tentang pembacokan bekas anggota Kopassus Sriyono dan penganiayaan yang menyebabkan kematian Serka Heru Santoso di Hugo's Cafe. Dia menyampaikan informasi itu setelah Ucok bertanya di kantin markas Kopassus Kandang Menjangan. “Karena saya bertugas di unit intelijen, maka saya tahu perkembangan informasi soal pembunuhan dan penganiayaan anggota Kopassus di Yogyakarta,” ujar Tri.

Dia menjelaskan identitas pembacok Sriyono, yakni kelompok Marcelinus Bhigu alias Marcel. Tri menceritakan kepada Ucok perkembangan kasus pembunuhan Heru Santoso, dan memberitahu pelakukanya Benyamin Angel Sahetapy alias Deki dan kawannya. Akan tetapi, ujar Tri kepada Ucok, Deki sudah ditangani dan ditangkap polisi.

Setelah mendapat informasi itu, Ucok mengajaknya pergi ke Yogyakarta mencari Marcel. Tri langsung menerima ajakan itu. "Kalau tidak diajak pun saya tetap ikut," ujar Tri.

Tri mengatakan dia yang menyarankan agar Ucok mengajak anggota Kopassus lain dengan pertimbangan kelompok Marcel punya banyak anggota. Maka, berangkatlah mereka pada 22 Maret 2013 dengan dua mobil ke Yogyakarta mencari Marcel. Tak menemukan Marcel, mereka malah menemukan Deki dan tiga kawannya di LP Cebongan. Pembunuhan pun terjadi.
Sumber : Tempo
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Media Militer - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger